Senin, 11 Desember 2017

Pembangunan Infrastruktur Menuju Pemerataan Pembangunan


Pemerataan pembangunan yang berfokus pada pertumbuhan ekonomi harus menjadi strategis utama pembangunan ekonomi bangsa Indonesia di masa yang datang. Strategi kebijakan pembangunan tersebut terus dipacu agar  masalah ketidakmerataan pembangunan dapat teratasi dan dapat meningkatkan daya saing menuju kemakmuran.

Berbagai masalah ketimpangan menjadi tantangan besar bagi bangsa Indonesia. Ketimpangan yang terjadi salah satunya dapat dilihat dari pemerataan pembangunan infrastruktur, lebih khususnya konektivitas antar daerah. Konektivitas  antar daerah menjadi penting karena masih terdapat sekitar 10,7% penduduk yang di garis kemiskinan dan sekitar 5,6% orang yang menganggur dan nyaris miskin.

Ketimpangan pembangunan menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah Indonesia khususnya wilayah timur Indonesia dan daerah perbatasan atau terluar Indonesia. Perbedaan harga yang tinggi di wilayah timur dan barat Indonesia serta ketimpangan persentase nilai produk domestik regional bruto (PDRB) secara nasional, khususnya di kawasan timur Indonesia dengan kawasan barat menjadi tantangan yang perlu diatasi.  Dari data yang dilansir BPS menunjukan PDRB Sulawesi 4,74%, Papua dan papua barat 1,80%, Nusa Tenggara 1,26% dan Maluku 0,27%. Jumlah tersebut berbeda jauh jika dibandingkan dengan PDRB dikawasan barat Indonesia. Adapun. PDRB Jawa dan Bali mencapai 58,87%, PDRB Sumatera 23,77% dan PDRB Kalimantan 9,30%.

Pemerataan pembangunan bisa kita lihat dengan perkembangan kawasan regional, melalui peringkat indeks pembangunan inklusif yang diliris World Economic Forum (WEF) pada tahun 2017. WEF melihat bahwa negara-negara berkembang menunjukan peningkatan dan pemerataan kesejahteraan masyarakatnya. Indonesia menempati peringkat ke-22 indeks pembangunan dari 79 negara berkembang.

Pemerataan pembangunan adalah jawaban dari masalah ketimpangan, yang salah satu strateginya yaitu dengan menjamin ketersediaan sarana infrastruktur yang telah disesuaikan dengan kebutuhan antar daerah sehingga diharapkan nantinya akan mendorong investasi dan lapangan pekerjaan baru serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Teori ekonomi pembangunan juga menjelaskan bahwa untuk menciptakan dan meningkatkan kegiatan ekonomi diperlukan sarana infrastruktur yang memadai. Infrastruktur juga merupakan salah satu penunjang utama terlaksananya proses pembangunan suatu daerah.

Merujuk pada publikasi World Development Report (World Bank,1994), infrastruktur mempunyai peran penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dimana pertumbuhan ekonomi yang tinggi ditemukan di wilayah dengan tingkat ketersediaan infrastruktur yang memadai.

World Bank (1994) melaporkan bahwa elastisitas PDB (Produk Domestik Bruto) terhadap infrastruktur disuatu negara adalah antara 0.07 sampai 0,44. Hal ini artinya dengan kenaikan satu persen pada ketersediaan infrastruktur maka akan menyebabkan kenaikan PDB sebesar 7% sampai 44% dan ini angka yang signifikan.

Menurut para ekonom, infrastruktur dipandang sebagai suatu modal yang bisa memacu pertumbuhan ekonomi nasional karena pembangunan infrastruktur mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan mempunyai multiplier effect kepada pembangunan nasional dan daerah. Pembangunan infrastruktur yang cepat dan menyebar di setiap daerah adalah bentuk dari Regional Growth Strategy , yang tujuannya untuk mengatasi masalah pembangunan yaitu kemiskinan dan kesenjangan, sekaligus bentuk investasi dalam meningkatan produktivitas dan daya saing.

Percepatan pembangunan infrastruktur di Indonesia saat ini terus-menerus dipacu. Kita perlu mengapresiasi terhadap komitmen pemerintahan Jokowi yang menjadikan pembangunan infrastuktur sebagai salah satu prioritas nasional yang terus didorong percepatannya didalam RKP tahun 2017 dan 2018. Hal tersebut juga tercermin dalam paket-paket kebijakan ekonomi yang hingga sekarang sudah mencapai sebanyak 12 paket kebijakan ekonomi.

Dilakukannya akselerasi pembangunan infrastruktur khususnya di wilayah timur Indonesia dan daerah perbatasan atau wilayah terluar Indonesia, yang tujuan utamanya untuk pemerataan ekonomi dan menurunkan ketimpangan ekonomi antar daerah. Percepatan pembangunan infrastruktur yang dilakukan diharapkan dapat meningkatkan ekonomi regional sehingga ekonomi bukan hanya tumbuh tinggi namun juga merata dan adil.

Percepatan pembangunan infrastruktur bukanlah tanpa alasan semata, ahli ekonomi pembangunan yaitu Rosentein-Rodan sejak lama telah mengatakan pentingnya pembangunan infrastruktur, sebagai pilar pembangunan ekonomi yang kemudian dikenal dengan nama big-push theory. Sebenarnya pembangunan infrastruktur khususnya konektivitas juga telah menjadi strategi yang digunakan untuk menggerakan ekonomi pada zaman dahulu. Daendels membangun jalan dari Anyer ke Panarukan di Pulau Jawa atau Laksamaan Cheng Ho yang menyinggahi berbagai Bandar Laut Batavia, Aceh dan Palembang.

Pembangunan infrastruktur di Indonesia merupakan tantangan besar mengingat jumlah pulau yang lebih dari 17.500 pulau, luas wilayah daratan dan lautan sekitar 5,2 juta kilometer persegi, jumlah penduduk sekarang lebih dari 250 juta jiwa, serta pertumbuhan populasi dan ekonomi relatif  tinggi sehingga kebutuhan akan pembangunan infrastuktur kedepan akan terus meningkat.

Regional Growth Strategy yang menjadikan wilayah perbatasan dan terluar Indonesia sebagai beranda terdepan dalam pembangunan infrastruktur. Pada tahun 2017, sebesar 17,8383 Triliun dialokasikan untuk wilayah perbatasan dan terluar guna mengatasi masalah kesenjangan antar wilayah di Indonesia. Pembangunan di wilayah perbatasan berfokus terhadap pembangunan infrastruktur ekonomi seperti jalan, bendungan, pasar tradisional dan infrastruktur pendukung lainnya.Namun di daerah perbatasan berfokus pada upaya meningkatkan perekonomian di daerah perbatasan dan unggul dari negara tetangga.

Pembangunan infrastruktur di luar Pulau Jawa pun terus dipercepat, seperti pembangunan jalan Trans Papua sepanjang 4.330,07 kilometer (km). Jalan Trans Papua ini adalah proyek yang sudah lama dijalankan, namun baru dilakukan pergerakannya dalam beberapa tahun terakhir , saat ini jalan Trans Papua telah selesai sepanjang 3.851,93 km.

Demikian pula dengan pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera juga terus dipacu akselerasinya, sebagai jaringan jalan tol sepanjang 2.700 km yang menghubungkan kota-kota di pulau Sumatera, mulai dari Aceh sampai Lampung. Jalan tol ini dirancang dengan 15 ruas utama dan 9 ruas pendukung, dari Banda Aceh-Medan sampai Bakaheuni-Terbanggi Besar.

Lalu pembangunan infrastruktur laut, yang telah direncanakan pada tahun 2014 terus diikuti dengan dukungan pembangunan infrastruktur, khususnya kawasan Indonesia Timur guna untuk melancarkan konektivitas antar pulau, sebagaimana konsekuensi Indonesia sebagai negara kepulauan sehingga perbedaan harga dapat ditekan dan pertumbuhan ekonomi lokal dapat meningkat sekaligus membangun kemandirian ekonomi serta bergeraknya sektor-sektor produktif.

Berbagai cara dilakukan guna memastikan  penyelesaian pembangunan infrastruktur bisa sesuai dengan apa yang telah ditargetkan khusunya konektivitas antar daerah yang selesai paling lambat pada tahun 2018, oleh karena itu perlu langkah-langkah yang strategis dalam mengatasi permasalahan yang nantinya bisa mengganggu kelancaran pembangunan infrastruktur.

Masalah Pengadaan tanah selama ini sering juga  menjadi penghambat dalam proyek-proyek strategis nasional. Menurut perkembangan terakhir pemerintahan jokowi telah mengalokasikan dana pengadaan tanah yang ditetapkan pemerintah melalui Badan Layanan Umum Lembaga Manajemen Aset Negara. Dengan adanya alokasi dana pengadaaan tanah ini diharapkan hambatan-hambatan yang terkait pengadaan tanah dapat teratasi.

Dengan keterbatasan anggaran negara, berbagai cara pembiayaan dilakukan oleh pemerintah guna akselerasi pembangunan infrastruktur dengan memastikan terkait dukungan pembiayaan yang selama ini menjadi penghambat dapat diatasi, baik yang bersumber pada APBN, Public Private Partnership dan Kerja sama Pemerintah dengan Badan Usaha.

Percepatan pengembangan infrastruktur ini kita berharap dapat meningkatkan integrasi seluruh daerah di Indonesia guna perbedaan harga, biaya transportasi dan logistik menurun serta daya saing ekonomi dapat meningkat.

Seluruh stakeholder dapat meningkatkan sinerginya untuk mendukung pembelanjaan infrastruktur dan mampu mendorong sektor-sektor lain untuk ikut tumbuh, seperti infrastruktur energy dan pangan.

Belanja infrastruktur harus menekankan pada prinsip efisiensi, yaitu dengan memperbesar porsi belanja pembangunan fisik dan memperkecil porsi belanja yang digunakan untuk proses persiapan dan pengadaan. Terbatasnya anggaran yang dimiliki pemerintah untuk membiayaan pembangunan infrastruktur menuntut adanya upaya keterlibatan pihak swasta. Oleh karena perlu dikembangkannya pemerintahan marketer dalam menfasilitasi hubungan antara pemerintah dan swasta melalui public-private partnership.

Meningkatnya anggaran pembangunan infrastruktur dari tahun ketahun diharapkan kementrian atau lembaga negara dapat mempersiapkan semuanya lebih matang dengan mengedepankan pada efisiensi dan transparansi. Tentunya kita juga mengharapkan dalam implementasinya akan ada pengendalian dan pengawasan guna memastikan percepatan pembangunan infrastruktur ini bisa sesuai dengan yang ditargetkan.


Percepatan pembangunan infrastruktur ini kita semua berharap masalah pemerataan pembangunan bisa cepat teratasi dan bisa menggeraknya ekonomi kerakyatan agar mempermudah pertukaran barang dan jasa atau pulau dan antar wilayah sehingga seluruh wilayah di Indonesia menjadi bagian penting guna memeratakan pembangunan ke seluruh wilayah Negara Indonesia.